Kamis, 12 Februari 2009

Indahnya Merasa Khawatir [Part 1]

Jakarta School of Prosthetic & Orthotics akhir-akhir ini sangat menyita waktu saya. Sudah hampir tiga minggu saya dalam masa-masa penantian yang luar biasa. Dan untuk saat ini, masa itu betul-betul menjadi masa yang tidak nyaman. No one loves waiting, right?

Bermula ketika saya pulang dari kerja di hari sabtu yang begitu cerah dan indah di pertengahan bulan Januari. Setelah lelah mengendarai sepeda motor selama sekitar satu jam perjalan dari Sunter menuju Bekasi, saya memutuskan untuk berhenti di “J’ Co generik” (red: kedai kopi murah langganan) hanya untuk sekedar melepas lelah dan juga agar bisa menghubungi teman-teman saya karena biasanya jam 4 sore mereka sudah duduk manis di sofa J’Co asli sambil membicarakan hal-hal yang tidak penting dan anehnya hal-hal yang tidak penting itu bisa membuat pegawai J’Co cemberut karena begitu lamanya kami duduk disana hanya dengan sekali pemesanan.

Setelah memesan Nescafe Ice, saya menggambil Koran Kompas yang memang sengaja disediakan oleh si pemilik khusus di hari sabtu, dan besar harapan pemilik warkop sekiranya manusia-manusia pengangguran yang sering hang out dan menjadi langganan di kedai tersebut berinisiatif untuk melihat-lihat lowongan kerja yang memang banyak tersedia di Klasika Kompas Sabtu. Memang sungguh mulia sekali niat bapa warkop tersebut. Tapi entah kenapa ketika saya ambil Koran Kompas tersebut terlihat sekali lipatan-lipatannya masih terlihat sangat rapih dan mungkin masih belum dijamah sama sekali.

Mulailah saya membaca berita-berita terbaru dan langsung terlintas di pikiran saya untuk membuka Klasika Kompas Lowongan Kerja karena ternyata beritanya kurang menarik bagi saya. Mungkin kalian pikir saya ingin mencari pekerjaan yang lebih baik dari sekarang, mungkin kalian juga benar tapi bukan itu tujuan utama saya.

Saya mempunyai seorang teman, souls mate who more than just a friend. Umur kami hampir sama, hanya beda 10 hari. Tapi pola pikirnya jauh 10 tahun di bawah saya dan kami sudah berkenalan selama kurang lebih 10 tahun. Terkadang saya sangat membenci dia karena begitu senangnya dia menjadi pengangguran, begitu cerianya dia menjalani hari-hari dengan ritme yang sangat monoton. Bangun pagi kemudian nonton gossip, nonton dvd (koleksi filmnya banyak sekali) kemudian makan kemudian nonton berita Israel vs Palestina di TV One (TV yang memihak), kemudian menjemput pacarnya pulang kerja. Itu-itu saja yang dilakukan setiap hari. Tidak ada inisiatifnya untuk mencari pekerjaan atau apapun yang menghasilkan.

Dan sejujurnya itu menggangu pikiran saya sebagai temannya. Pernah saya sarankan dia untuk menjadi gigolo karena dia sangat tepat sekali untuk pekerjaan itu. Badan tegap, muka ganteng seperti Rhoma Irama si tuhannya dangdut. And guess what? Di tolak mentah-mentah karena dia menganggap pekerjaan itu tidak halal. Teringat seketika tentang pelajaran sekolah minggu mengenai talenta. Dan duplikat rhoma irama ini persis seperti orang yang menguburkan talentanya karena dia takut terhadap tuannya. Bukannya mendapat pujian malah mendapat murka sang tuan. In my opinion (Pandangan orang kan beda-beda, jadi suka-suka saya melihat dari sudut pandang mana), lebih baik baginya untuk menjadi gigolo secara memang itu talenta terbaik yang dia miliki daripada hanya mengharapkan orang tua yang semakin lama semakin menjadi kurang produktif.

Enough about him, itulah alasan utama mengapa saya membuka-buka klasika lowongan kerja di kompas, kiranya saya dapat menemukan pekerjaan yang cocok buat dia. I love you brother, if you read this, please forgive me. It is a pleasure for me to serve you because that is why we were born to this damned world, to serve and love each other. And I am eager we are on the move also, jangan cuma pertamina aja yang on the move. Kita juga harus!

Banyak iklan yang saya tandai dan memang agak cocok untuk temen saya yang satu ini. Setelah selesai, kemudian saya membuka klasika kerja sama yang mana saya harapkan saya mendapatkan peluang bisnis yang baik. I do love business.

Memang lebih nikmat berbisnis daripada menjadi karyawan. Waktu yang flexible & profit yang besar dibanding menerima gaji sebagai karyawan. Dan yang terpenting kita bisa menjadi saluran berkat bagi orang lain dengan mempekerjakan mereka sebagai karyawan atau partner kita.

Bukannya mendapatkan peluang bisnis, tapi mata saya malah kepincut melihat iklan yang berlogo Departemen Kesehatan Republik Indonesia & Cambodia Trust. Dengan tag line berjudul FULL SCHOLARSHIP FOR INDONESIAN CITIZEN, kemudian saya membaca perlahan-lahan kualifikasi yang dibutuhkan dan sepertinya sangat pas untuk saya ikuti.

Akhirnya, selesai juga Nescafe Ice pesanan saya dibuat. Mmm, enak banget ketika matahari terik dan tenggorokan saya di siram kopi dingin. Thank you to whomever you are who have made that kind of beverage.

Hari berikutnya, mulai saya men-scan ijazah, sertifikat dan skck agar bisa dikirim via e-mail. Setelah saya lengkapi formulir yang saya download dari www.cambodiatrust.org.uk, kemudian whooz, saya kirim bersama dengan dokumen-dokumen yang sudah saya scan. Seketika itu juga saya tidak peduli lagi dengan status surat elektronik yang sudah saya kirim.

Hari senin, 25 Januari 2009 pukul 11 siang ketika saya sedang bekerja bersama para tukang, keluarlah bunyi yang menunjukan adanya e-mail masuk di pda saya. (Bersambung, saya mau bobo dulu.)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar